RSS

PILIHAN-PILIHAN AKUNTANSI DALAM APLIKASI TEORI AKUNTANSI POSITIF

12 Mar

JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 83
PILIHAN-PILIHAN AKUNTANSI DALAM APLIKASI
TEORI AKUNTANSI POSITIF
Tatang Ary Gumanti)
Abstract
Empirical researches based on the positive accounting theory or the economic
consequence theory have directed to seek for the answers about the reasons that motivate
managers in selecting or determining certain accounting techniques in preference to other
techniques. So far the existing studies have found an association between the firms’ specific
characteristics and managers’ decision to select certain accounting techniques. That is, there is
specific reason of why manager prefers to use one accounting method but not the others. Further
study needs to be conducted to seek the answers whether managers have specific reasons or
behave opportunistically by adopting accounting techniques that affect the firm accounting
performance for which the selected techniques do not against the generally accepted accounting
principles (accounting standards).
Key words: Accounting techniques (methods), positive accounting theory, opportunistic behavior,
accounting regulations.
PENDAHULUAN
Menurut Holthausen (1990), ada tiga perspektif yang saling
tumpang tindih dalam konteks pilihan akuntansi (accounting choices) dan
yang sejauh ini mendapat perhatian para peneliti akuntansi. Ketiga
perspektif dimaksud adalah perilaku oportunis (the opportunistic behavior),
kontrak efisien (the efficient contracting), dan perspektif informasi (the
information perspective). Khusus untuk kontrak efisien dan perilaku
oportunis, keduanya berkembang berdasarkan pada fungsi dari kontrak
yang mengacu pada angka-angka akuntansi. Artinya, kontrak-kontrak
yang disepakati antar pihak yang terkait, dalam hal ini adalah manajer
(agent) dan pemegang saham (owners atau shareholders), sangat
ditentukan oleh keberadaan angka-angka akuntansi.
Dalam konteks perilaku oportunis, manajer diasumsikan
berusaha untuk memaksimalkan kemakmuran pribadinya, yang mana
kemakmuran tersebut sangat tergantung pada seberapa besar kinerja
yang dicapai terkait dengan bonus tunai (cash bonus), risiko
ketenagakerjaan yang muncul dari adanya kemungkinan dilakukan
pengambilalihan atau kegagalan atau kebangkrutan (default or bankruptcy)
) Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jember Jawa Timur
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
84 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
perusahaan, dan nilai saham perusahaan di pasar (firm share value).
Efek dari kemakmuran nilai saham merupakan cermin dari seberapa
besar porsi saham yang dimiliki oleh manajer atau opsi saham yang
ada (share option) serta merupakan cermin dari nilai modal manusia
(human capital) yang dilibatkan. Sebagai konsekuensi langsung dari
potensi adanya perilaku oportunis tersebut, manajer memiliki insentif
(minat atau dorongan) untuk mengambil pilihan-pilihan akuntansi
tertentu yang dapat memaksimalkan efek dari aliran kas langsung
(direct cash flow effect) serta efek terhadap nilai perusahaan.
Selain efek dari aliran kas langsung, insentif manajer juga
dimungkinkan muncul dari suatu aktivitas dimana pilihan-pilihan
akuntansi tidak memiliki efek aliran kas langsung. Hal ini
memungkinkan terjadi dimana akibat dari pilihan-pilihan akuntansi
terhadap harga saham melalui efeknya pada biaya politis harapan
perusahaan (expected political costs), yang merupakan fungsi dari
keuntungan yang dilaporkan, atau biaya-biaya yang muncul sebagai
akibat dari adanya kegagalan utang atau negosiasi ulang. Mengacu
pada hal-hal tersebut, diperkirakan bahwa, hal-hal lain dianggap sama
(ceteris paribus), manajer-manajer pada perusahaan yang bercirikan
biaya politis tinggi (perusahaan-perusahaan besar) akan memilih
metode-metode akuntansi yang menurunkan laba berjalan (current
incom reducing accounting methods), sedangkan manajer-manajer pada
perusahaan dengan biaya keagenan tinggi (high agency costs) yang
dicirikan oleh kepemilikan yang menyebar (diversified ownership)
cenderung memilih metode-metode akuntansi yang menaikkan laba
berjalan (current incom-increasing accounting methods).
Dalam konteks kontrak efisien, kontrak-kontrak yang
meminimisasi biaya keagenan mungkin mendorong terjadinya manajemen
laba (earnings management).1 Bagaimanapun juga, kontrak-kontrak
yang terjadi bisa efisien sebagai akibat dari upaya-upaya untuk
memaksimalkan nilai perusahaan. Dalam kenyataannya, adalah sangat
sulit untuk membedakan antara aksi atau tindakan yang berbasis kontrak
efisien dan yang berbasis perilaku oportunis.
Konteks perspektif informasi telah menjadi perhatian serius dan
mengalami penelitian yang mendalam dalam beberapa tahun terakhir,
walaupun implikasi-implikasi yang dapat diuji belum sepenuhnya
konklusif. Literatur yang berbasis perspektif informasi ini mengidentifikasi
perataan laba (income smoothing) sebagai manajemen laba (earnings
1 Untuk keperluan analisis dan memudahkan pemahaman, istilah earnings dan income
dalam tulisan ini disamakan. Misalnya, earnings management diartikan sebagai
manajemen laba, dan income smoothing diartikan sebagai perataan laba.
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 85
management). Schipper (1989), Healy dan Wahlen (1999), Dechow dan
Skinner (2000) mengupas secara lengkap literatur yang terkait dengan
manajemen laba, termasuk juga motivasi yang mendasari manajer
untuk melakukan praktek manajemen laba. Berdasarkan pada asumsi
dasar ketimpangan informasi (information asymmetry) antara manajer
dan pemegang klaim perusahaan yang ada dan potensial (existing and
potential claimholders), pendekatan berbasis perspektif informasi
mengedepankan keberadaan dari kewenangan yang dimiliki oleh
manajer untuk melakukan perataan demi kepentingan pemegang saham
perusahaan. Manfaat-manfaat tersebut muncul, misalnya, dengan
meningkatkan persepsi calon pemegang saham terhadap nilai perusahaan
sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Dye (1988), atau dengan
mengurangi risiko tingkat kebangkrutan yang akhirnya juga menaikkan
nilai perusahaan sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Trueman dan
Titman (1988). Perspektif informasi beranggapan bahwa metodemetode
akuntansi yang dipilih oleh manajer dimaksudkan untuk
mengungkapkan harapan manajer tentang aliran kas perusahaan di
masa mendatang. Oleh sebab itu, agar perataan dapat menjadi sarana
yang efektif, pilihan-pilihan akuntansi yang dilakukan oleh manajer
harus dapat diketahui atau dapat diamati atau nampak (observable).
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji teori akuntansi positif dan
penelitian-penelitian yang mencoba membuktikan keberadaan teori
tersebut, khususnya pengujian yang berbasis penggunaan teknik atau
metode akuntansi untuk mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
Tulisan ini diatur sebagai berikut. Bagian dua membahas tentang teori
akuntansi positif. Bagian ini diikuti oleh ulasan sekilas mengenai
penelitian awal yang berbasis pilihan teknik-teknik akuntansi. Bagian
empat menyajikan bukti-bukti empiris terkait dengan pilihan teknik-teknik
akuntansi dan diikuti oleh bahasan atas beberapa poin penting untuk
dikaji. Bagian akhir berisi kesimpulan dan rekomendasi.
TEORI AKUNTANSI POSITIF
Teori akuntansi positif telah banyak diuji dengan menggunakan
pilihan-pilihan metode akuntansi. Dalam suatu review yang
menyeluruh, Christie (1990) menyimpulkan ada enam proxy yang telah
diketahui memiliki kemampuan dalam menjelaskan praktek-praktek yang
merupakan cerminan dari aplikasi teori akuntansi positif. Keenam proxy
dimaksud adalah ukuran perusahaan (firm size), tingkat risiko (risk level),
kompensasi manajerial (managerial compensation), porsi utang terhadap
aktiva atau modal (financial leverage), pembatas-pembatas dalam
penyelesaian utang, dan rasio pembayaran dividen (dividen payout ratio).
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
86 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
Keenam faktor tersebut merupakan faktor yang melekat pada suatu
perusahaan dan sekaligus sebagai sifat atau karakteristik suatu
perusahaan dimana besarnya masing-masing faktor bisa berbeda-beda
antara perusahaan yang satu dan perusahaan yang lain.
Holthausen dan Leftwich (1983) berpendapat bahwa pilihanpilihan
akuntansi hanya akan memiliki konsekuensi ekonomi jika
perubahan-perubahan dalam peraturan-peraturan yang digunakan
untuk menghitung angka-angka akuntansi mempengaruhi besar
kecilnya distribusi aliran kas perusahaan, atau kemakmuran pihak-pihak
yang menggunakan angka-angka tersebut untuk pengambilan
keputusan atau kontrak. Menurut Holthausen dan Leftwich, teori ini
disebut sebagai teori konsekuensi ekonomi (economic consequence
theory). Teori ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari teori akuntansi
positif yang dikedepankan oleh Watts dan Zimmerman (1986). Teori
konsekuensi ekonomi sangat ditentukan oleh asumsi atau pendekatan
yang digunakan dimana dalam hal ini ditentukan oleh biaya-biaya
kontrak dan pengawasan (contract and monitoring costs) yang dikaitkan
dengan persetujuan kontrak perusahaan yang disepakati, seperti kontrak
kompensasi manajemen dan kesepakatan perjanjian atau yang dikaitkan
dengan visibilitas politis perusahaan. Biaya-biaya kontrak dan pengawasan
mencakup biaya-biaya mendisain, menegosiasi, dan mengevaluasi
kepatuhan terhadap kontrak yang disepakati.
Hal yang sulit untuk diambil kesepakatannya adalah adanya
kenyataan bahwa kesulitan pasti akan ditemui manakala peneliti ingin
membedakan biaya-biaya kontrak dan pengawasan yang mana yang
dapat meningkatkan kemampuan memprediksi teori-teori akuntansi.
Hal ini terjadi karena teori-teori yang memasukkan berbagai aspek biaya
yang berbeda akan menghasilkan implikasi normatif kepada pengguna
angka-angka akuntansi (users of accounting numbers). Oleh sebab itu,
sekali biaya kontrak dan pengawasan diajukan, pilihan terhadap aturanaturan
pengukuran akuntansi mempengaruhi nilai perusahaan dan
kemakmuran beberapa pihak yang terlibat serta efeknya bersifat
khusus kepada jenis dari biaya kontrak dan pengawasan.
PENELITIAN AWAL BERBASIS PILIHAN AKUNTANSI
Penelitian-penelitian awal yang mencoba mencermati efek dari
perubahan metode akuntansi terhadap harga saham menghasilkan
kesimpulan bahwa perubahan metode akuntansi tidak memiliki efek
terhadap harga saham (Ball, 1972; Kaplan dan Roll, 1972; Sunders,
1973). Bukti adanya efek terhadap harga saham hanya ditemukan pada
perubahan metode pencatatan persediaan dari LIFO ke FIFO yang dalam
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 87
hal ini dapat mempengaruhi besarnya pajak penghasilan perusahaan.
Bahkan, Kaplan dan Roll (hal. 245) agak pesimistis dengan
menyatakan “Earnings manipulation may be fun, but its profitability is
doubtful”. Ini semua tidak terlepas dari adanya anggapan bahwa apa-apa
yang dilakukan oleh manajer, selama aktivitasnya tersebut tersirat di
dalam laporan keuangan dan diketahui oleh pengguna laporan
keuangan (users), tidak akan mempengaruhi penilaian investor karena
investor mengetahui aktivitas atau aksi manajemen tersebut.
Holthausen dan Leftwich (1983) menyadari kesulitan dalam
mengambil keputusan tentang efek dari teknik-teknik akuntansi tertentu
terhadap aliran kas karena pengujian yang dilakukan tidak didisain
untuk menguji konsekuensi ekonomis secara langsung, disamping juga
karena alasan keterbatasan metodologi yang digunakan. Penelitian
yang ada masih cenderung diarahkan pada pandangan mekanik
(mechanistic view) untuk menguji pilihan akuntansi versus pandangan
konsekuensi ekonomi yang tidak mengandung implikasi atau efek (no
effects). Berdasarkan pada pandangan mekanik dan dalam kaitannya
dengan pilihan akuntansi, akuntansi merupakan suatu sumber informasi
tunggal tentang perusahaan dan biaya yang dikeluarkan oleh investor untuk
mendapatkan informasi yang diinginkan cenderung lebih besar
dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan. Konsekuensinya, respon
investor terhadap informasi akuntansi tidak mampu untuk membedakan
angka-angka yang diperoleh yang merupakan ‘akibat’ dari metodemetode
akuntansi yang dipilih oleh manajer.
Berbeda dengan pandangan mekanik, teori konsekuensi
ekonomi berasumsi bahwa terdapat persaingan dalam mendapatkan
sumber-sumber informasi dan manfaat bersih dari kegiatan memproses
informasi bervariasi (berbeda) antar pengguna informasi atas angka-angka
akuntansi (users of accounting numbers). Jadi, menurut teori konsekuensi
ekonomi, investor memerlukan suatu upaya serius (nyata) untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan agar dapat memperoleh manfaat
nyata yang berbeda dibandingkan dengan investor lain.
Dalam pandangan konsep pilihan akuntansi tidak berefek,
tidak dapat dikatakan bahwa baik manajer maupun pembuat aturan
akan memilih metode akuntansi secara acak. Pasti terdapat latar
belakang atau alasan yang berbeda-beda antar manajer dalam memilih
suatu teknik atau metode akuntansi tertentu dan kenapa tidak memilih
suatu metode akuntansi yang lain. Artinya, walaupun dalam konteks
bahwa pilihan akuntansi tidak berefek terhadap harga saham, namun
terdapat suatu anggapan yang bisa dilandasi oleh tradisi atau kebiasaan
yang uniknya dapat dijumpai dalam skala industri. Dalam hal ini, ada
kecenderungan suatu jenis industri memiliki kebiasaan untuk
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
88 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
menggunakan suatu metode akuntansi tertentu, sementara industri
yang lain tidak atau justru menggunakan metode akuntansi yang lain.
Disadari atau tidak, setiap pilihan suatu metode akuntansi pasti memiliki
latar belakang atau alasan, baik yang didorong oleh alasan ekonomi
maupun non-ekonomi.
Menurut teori konsekuensi ekonomi, dapat ditemukan bahwa
karakteristik suatu perusahaan memiliki hubungan dengan metode
akuntansi yang dipilihnya. Artinya, perusahaan atau manajer memiliki
alasan khusus yang menurut pertimbangan ekonomi akan lebih
memberikan manfaat untuk memilih suatu metode akuntansi “X”
dibandingkan dengan metode akuntansi “Y”. Dari sini, nampak jelas
adanya perbedaan antara teori mekanis, yang cenderung tidak mampu
menjelaskan kenapa seorang manajer memilih untuk menggunakan
suatu metode akuntansi tertentu, dan teori konsekuensi ekonomi, yang di
dalamnya ada alasan-alasan yang mendasari keputusan manajer untuk
memilih suatu metode akuntansi. Jadi, jelas kiranya bahwa teori
konsekuensi ekonomi memiliki kelebihan untuk menjawab alasan
penggunaan suatu metode akuntansi bilamana hubungan antara faktor
khusus perusahaan (karakteristik) dan pilihan akuntansi dapat secara
tepat diduga.
Teori konsekuensi ekonomi didasarkan pada anggapan bahwa
biaya kontrak dan pengawasan (contract and monitoring costs) harus
dipertimbangkan dalam setiap proses pengambilan keputusan karena
kedua jenis biaya tersebut akan muncul sebagai konsekuensi dari suatu
aktivitas akuntansi. Biaya kontrak mencakup biaya-biaya evaluasi,
negosiasi, penulisan, dan negosiasi ulang suatu kesepakatan kontrak.
Biaya pengawasan merupakan biaya-biaya yang muncul untuk menjadi
terinformasi (informed) tentang kinerja dari suatu kontrak dan biaya
evaluasi atas kepatuhan kesepakatan dalam kontrak. Bilamana biaya
kontrak dan pengawasan dimasukkan dalam suatu analisis, baik itu
keputusan sukarela atau wajib untuk menggunakan suatu metode
akuntansi tertentu, akan mempengaruhi nilai suatu perusahaan, dan
sekaligus kemakmuran manajer, akuntan, pembuat peraturan, dan
investor karena biaya-biaya tersebut akan mencegah beberapa pengguna
angka-angka akuntansi dari upaya pengungkapan perubahan akuntansi
secara gratis. Jadi, teori yang berdasarkan pada biaya kontrak dan
pengawasan memprediksi bahwa perubahan-perubahan dalam peraturan
yang digunakan untuk menghitung angka-angka akuntansi memiliki
konsekuensi ekonomi karena perubahan-perubahan tersebut akan
mempengaruhi penyebaran atau distribusi dari aliran kas atau klaim yang
muncul dari pihak-pihak terkait atas aliran kas tersebut pada periode yang
akan datang.
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 89
Teori konsekuensi ekonomi berasumsi bahwa pelaku-pelaku
ekonomi berperilaku rasional. Artinya, mereka adalah sekelompok
orang yang mendasarkan setiap aksi yang dilakukan berdasarkan pada
pertimbangan yang masuk akal (rasional) dan tidak semata didasari oleh
emosi atau intuisi. Hal ini merupakan cerminan langsung dari anggapan
bahwa setiap aksi yang dipilih oleh pelaku ekonomi pasti didasarkan
pada pertimbangan biaya manfaat (costs-benefits). Konsekuensinya
adalah bila metode-metode akuntansi dipercayai akan dapatmempengaruhi
kemakmuran pihak-pihak yang berkepentingan, agen (manajer) pasti
menuntut adanya kompensasi. Jadi, antar pihak-pihak yang
berkepentingan harus ada kesepakatan dan juga konsekuensi yang
harus dipertimbangkan tentang apa yang akan terjadi dan/atau dijalani.
Berpijak dari analisis yang dilakukan oleh Watts (1977) dan Watts
dan Zimmerman (1978), serta beberapa penelitian lain, setidaknya
terdapat empat aktivitas yang dapat mempengaruhi konsekuensi
ekonomi sebagai akibat dari pilihan akuntansi. Keempat aktivitas tersebut
mencerminkan adanya hubungan antara aliran kas perusahaan dan
angka-angka akunansi yang dilaporkan oleh perusahaan. Keempat hal
tersebut adalah (1) rencana kompensasi manajemen (management
compensation plans), (2) peraturan-peraturan pemerintah (government
regulations), (3) kesepakatan peminjaman (lending agreements), dan
(4) aspek politis (political visibility). Berikut ini disajikan pembahasan
singkat masing-masing aktivitas tersebut.
Rencana Kompensasi Manajemen
(Management Compensation Plans)
Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan bahwa mengapa
rencana kompensasi manajemen (bonus plans) ada dalam suatu
perusahaan (digunakan oleh perusahaan) tidak lain karena rencana
tersebut merupakan sarana kontrak yang efisien (efficient contract)
yang dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Rencana kompensasi
manajemen seringkali dikaitkan dengan kesempatan bagi manajer
untuk menikmati bagian keuntungan tertentu bilamana perusahaan
mampu menghasilkan suatu tingkat keuntungan tertentu yang telah
ditargetkan (disepakati). Target tersebut biasanya dinyatakan dalam
satuan angka, misalnya, keuntungan bersih perusahaan dalam suatu
periode akuntansi tertentu, atau tingkat pengembalian terhadap nilai buku
aset perusahaan, atau pencapaian harga saham tertentu di pasar
modal (bursa).
Kemakmuran manajemen tentu saja dapat dipengaruhi oleh
perubahan-perubahan yang dilakukannya, baik itu perubahan sukarela
atau wajib, bilamana kontrak kompensasi yang ada tidak disesuaikan
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
90 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
dengan perubahan peraturan yang ada. Manajemen juga memiliki
kepentingan atau kesempatan untuk menggunakan dana perusahaan
dalam bentuk keputusan investasi atau keuangan lain yang dapat
mempengaruhi tingkat keuntungan perusahaan secara keseluruhan.
Jadi, manajer mungkin akan menerima dan menerapkan atau menolak
(melakukan negosiasi) terhadap suatu peraturan akuntansi yang pada
gilirannya akan dapat mempengaruhi besarnya bonus yang akan
diterimanya.
Konsekuensi ekonomis atas pilihan akuntansi yang muncul dari
rencana kompensasi tergantung pada kondisi perjanjian (kesepakatan)
yang telah dibuat sebelumnya dan juga perubahan atas perjanjian pada
periode mendatang. Dengan tidak adanya biaya negosiasi dan
pengawasan, kesepakatan kompensasi yang ada mungkin tidak begitu
berarti. Sebaliknya, bila biaya negosiasi dan pengawasan cukup
signifikan yang dapat mempengaruhi kemakmuran berbagai pihak yang
terkait, khususnya manajer, ada kemungkinan bahwa manajer akan
menggunakan peraturan akuntansi yang ada untuk mendapatkan
manfaat pribadi atau kebijakan (aksi) lain yang dapat mempengaruhi nilai
perusahaan. Jadi, seberapa sensitif kompensasi yang terikat dengan
kinerja perusahaan (manajer) akan dapat mempengaruhi kebijakan
atau strategi (aksi) manajer yang pada gilirannya akan dapat
mempengaruhi nilai perusahaan (kemakmuran pemegang saham dan
pihak-pihak lain).
Hipotesis rencana kompensasi manajemen (bonus plan
hypothesis) menyatakan bahawa ‘manager perusahaan dengan
rencana kompensasi lebih cenderung memilih prosedur akuntansi yang
memindah laba untuk periode mendatang menjadi laba periode
sekarang’ (Watts dan Zimmerman, 1986: 208). Karena alasan-alasan
tertentu, manajer memiliki insentif untuk ‘memanipulasi’ atau ‘mengatur’ laba
yang dilaporkan dengan menggunakan kewenangannya melalui pemilihan
metode akuntansi yang dapat mempengaruhi besar kecilnya laba.
Penelitian empiris awal yang mencoba meneliti efek dari rencana
kompensasi bonus manajemen (bonus plans) dilakukan oleh Healy (1985).
Healy, dan juga beberapa penelitian berikutnya seperti Holthausen,
Larcker, dan Sloan. (1995), menemukan bukti yang kuat bahwa
keputusan manajemen untuk memilih, atau mengadopsi suatu peraturan
akuntansi terkait erat dengan seberapa sensitif bonus yang ada
dikaitkan dengan pencapaian target keuntungan.
Apa yang dilaporkan oleh Healy (1985) dan Holthausen,
Larker, dan Sloan (1995) merupakan cermin dari pentingnya pemahaman
tentang perilaku manajer terhadap keberadaan rencana kompensasi yang
dapat mempengaruhi kemakmurannya baik saat ini maupun waktu
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 91
mendatang. Penelitian mengenai perilaku manajer terhadap adanya
rencana kompensasi sangat mungkin untuk dilakukan di negara barat yang
sistem keterbukaannya sudah baik, tetapi mungkin agak susah dilakukan
di Indonesia yang keterbukaan informasi (information transparency atau
openness) masih menjadi masalah. Oleh karena itu, adalah sebuah
tantangan bagi peneliti Indonesia untuk mencoba mengungkap
fenomena tersebut.
Peraturan Pemerintah (Government Regulations)
Di negara maju, yang sekarang juga sudah menjadi
kecenderungan di negara berkembang, pemerintah pusat dan daerah
membatasi aktivitas perusahaan dengan peraturan-peraturan yang
didasarkan pada angka-angka akuntansi secara eksplisit. Contoh dari
peraturan tersebut antara lain adalah adanya ketentuan atau
persyaratan untuk menetapkan harga barang dan jasa pada level
tertentu yang dimaksudkan untuk melindungi suatu jenis industri (usaha)
atau dalam konteks perbankan adalah diberlakukannya rasio kecukupan
modal (capital adequacy ratio) yang mengharuskan perusahaan
perbankan mencermati struktur modalnya. Dalam kaitannya dengan rasio
kecukupan modal, manajemen perbankan harus memperhatikan agar
jangan sampai modal yang dimiliki berada jauh di bawah tingkat yang
disyaratkan, karena dalam banyak hal akan dapat mempengaruhi kinerja
operasional perusahaan dan juga persepsi banyak pihak, khususnya
investor.
Terkait dengan biaya kontrak dan pengawasan dan masih
dengan kasus tingkat kecukupan modal pada industri perbankan, jika
perusahaan menganggap bahwa melakukan penyesuaian terhadap
tingkat kecukupan modal merupakan upaya yang mahal dan berat,
pemerintah (regulator atau otoritas perbankan) mungkin akan
melakukan perubahan yang tidak memberatkan manajemen. Sekalipun
mungkin tidak terlalu memberatkan atau mahal bagi perusahaan untuk
melakukan penyesuaian terhadap peraturan rasio kecukupan modal
yang baru, ada kemungkinan otoritas perbankan tidak harus
memberikan persyaratan waktu minimum untuk penyesuaian yang
diperlukan. Konsukensinya, adanya perubahan peraturan baru akan
dapat mempengaruhi tindakan atau kebijakan yang akan diambil oleh
manajer sebagai upaya untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan.
Bila manajer merasa bahwa kebijakan atau peraturan baru tersebut
dapat memberatkan kinerja perusahaan, ada kemungkinan akan
muncul upaya-upaya nyata yang dapat mempengaruhi kinerja angkaangka
akuntansi yang dilaporkan. Dengan kata lain, sebuah peraturan
baru yang akan mempengaruhi angka-angka akuntansi suatu
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
92 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
perusahaan dapat memiliki efek terhadap kinerja perusahaan bilamana
perusahaan tersebut menerapkan sebelum atau pada saat tanggal
paling akhir diberlakukannya peraturan tersebut.
Contoh lain yang mungkin akan banyak bermunculan,
khususnya di Indonesia, adalah efek dari kebijakan otonomi daerah dan
kaitannya dengan munculnya berbagai peraturan daerah (Perda) yang
dalam banyak hal belum mempertimbangkan efek bagi perusahaan
yang ada di daerah tersebut. Benturan muatan antara peraturan daerah
dan pusat dalam satu aspek dapat mempengaruhi perusahaan dalam
banyak hal, misalnya dalam hal pajak atau retribusi. Misalnya,
kabupaten ‘X’ dengan Perda nya menetapkan bahwa barang atau jasa
tertentu terkena pajak daerah atau ada pajak khusus yang terkait
dengan kinerja keuangan perusahaan. Bila efek dari peraturan tersebut
akan terkait langsung dengan kinerja keuangan perusahaan, bukan tidak
mungkin manajer akan termotivasi untuk memilih metode akuntansi
tertentu yang dapat mempengaruhi besar kecilnya laba.
Perjanjian Peminjaman (Lending Agreements)
Konsekuensi langsung dari adanya kesepakatan pinjammeminjam
suatu perusahaan adalah adanya batasan-batasan atas
aktivitas si peminjam dan banyak di antara batasan-batasan tersebut
berwujud atau berbentuk angka-angka akuntansi. Misalnya, kesepakatan
pinjam-meminjam berisi ketentuan untuk membatasi besarnya dividen
tunai atau jumlah maksimal untuk mendapatkan tambahan pinjaman
lagi. Perubahan-perubahan dalam aturan yang digunakan untuk
menghitung angka-angka akuntansi dimaksud tentunya secara langsung
ataupun tidak langsung akan mempengaruhi berat ringannya batasan
dalam kesepakatan pinjam-meminjam karena kesepakatan tersebut mau
tidak mau juga akan mempengaruhi transfer kemakmuran antara pemegang
utang dan pemegang saham. Akibatnya, perubahan-perubahan teknik
akuntansi, baik itu sukarela atau wajib, dapat mempengaruhi aliran kas
perusahaan yang akhirnya juga akan mempengaruhi nilai dari berbagai
klaim yang muncul. Dalam hal ini, manajer memiliki kemungkinan untuk
melakukan lobi yang mendukung atau menolak perubahan suatu teknik
akuntansi. Konsekuensi ekonomi yang mungkin timbul atas adanya
perubahan akuntansi sebagai akibat dari kesepakatan pinjammeminjam
antara lain adalah biaya untuk melakukan negosiasi ulang
dan pengawasan atas perjanjian utang mungkin akan mahal atau kapan
perjanjian tersebut akan menjadi mahal untuk melakukan rekapitalisasi
tanggungan utang yang ada. Apabila biaya untuk negosiasi dan
monitoring, negosiasi ulang, dan rekapitalisasi dirasa mahal, adalah
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 93
percuma (tidak bermanfaat) bagi manajer untuk melakukan lobi serta
melakukan perubahan teknik akuntansi secara sukarela, walaupun
beban biaya tersebut akan dapat mengurangi atau menurunkan nilai
perusahaan. Tetapi, bilamana biaya yang timbul sebagai akibat dari
adanya perubahan kesepakatan utang tidak signifikan dan perubahan
tersebut dalam banyak hal akan mempengaruhi kemakmuran
pemegang saham bila diikuti dengan perubahan teknik akuntansi, ada
kemungkinan manajer akan mengambil langkah menerapkan
perubahan teknik akuntansi.
Aspek Politis (Political Visibility)
Kinerja keuangan suatu perusahaan secara tidak langsung
akan dapat mempengaruhi bagaimana pihak lain yang terkait akan
menyikapinya. Misalnya, pelanggan, karyawan, serikat buruh, politisi,
birokrat, atau industri akan memiliki pandangan yang berbeda dalam
menyikapi kinerja keuangan suatu perusahaan, entah itu mendukung
atau menolak atau mengkritik. Bagi perusahaan yang sensitif terhadap
aspek politis, dalam artian cenderung menjadi sorotan banyak orang
yang merupakan ciri dari perusahaan besar atau perusahaanperusahaan
dalam industri tertentu, besar kecilnya laba (angka-angka
akuntansi) akan diterjemahkan berbeda oleh banyak pihak. Misalnya,
kasus di Indonesia adalah industri perbankan atau perusahaan BUMN
yang go public, seperti PT. Telkom Tbk. atau PT. Semen Gresik Tbk.
Pada beberapa waktu yang lalu, pemerintah telah menyetujui adanya
kenaikan tarif telepon. Tanggapan negatif langsung bermunculan karena
kenaikan tersebut pasti akan menaikkan tingkat keuntungan yang
diperoleh PT. Telkom Tbk. dan dalam banyak hal memberatkan
pelanggan serta yang kenyataannya tanpa kenaikan tarif perusahaan
sudah mampu mencatatkan angka keuntungan yang cukup besar.
Masalah sensitif yang terkait dengan PT. Semen Gresik adalah rencana
penjualan saham milik pemerintah melalui mekanisme put option yang
berlarut-larut yang tidak dapat tidak telah mempengaruhi penilaian
masyarakat (investor) terhadap harga saham di pasar modal.
Bagi perusahaan yang menjadi sorotan banyak pihak, angkaangka
akuntansi yang dilaporkan dapat memiliki konsekuensi ekonomi
bilamana perubahan dalam angka-angka akuntansi tersebut
mempengaruhi probabilitas besarnya pajak yang harus dibayar atau
subsidi yang diterima. Manajer-manajer pada perusahaan-perusahaan
tersebut memiliki kepentingan (insentif) untuk menggunakan suatu
teknik akuntansi tertentu dan juga memiliki kemungkinan untuk
melakukan lobi yang mendukung atau menolak perubahan standard
akuntansi yang wajib yang dapat mempengaruhi sensitifitas politis
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
94 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
perusahaannya. Dalam hal ini, angka-angka akuntansi dapat
mempengaruhi sensitifitas politis suatu perusahaan hanya jika proses
politis dalam kontrak dan pengawasan berbiaya mahal. Biaya-biaya
kontrak dan pengawasan dalam proses politis dapat berupa biaya-biaya
dalam membentuk koalisi atau gabungan beberapa perusahaan yang
memiliki kepentingan sama atau biaya yang harus dikeluarkan agar
perusahaan menjadi ‘tahu’ tentang efek ekonomi dari pajak atau subsidi
yang secara implisit atau eksplisit akan muncul.
Singkat kata, angka-angka laba akuntansi yang dilaporkan
oleh perusahaan akan memiliki konsekuensi ekonomi bilamana biayabiaya
yang timbul dalam aktivitas kontrak dan pengawasan menjadi
mahal. Jika biaya kontrak dan pengawasan tidak berarti atau sangat
kecil, maka angka-angka akuntansi yang dilaporkan oleh perusahaan
tidak akan memiliki efek sama sekali.
BUKTI EMPIRIS
Secara ringkas, bukti-bukti empiris yang terkait dengan efek dari
perubahan metode atau teknik akuntansi sejauh ini dapat dikelompokkan
ke dalam tiga macam, yaitu (1) pilihan atas tipe atau jenis teknik atau
ketode akuntansi, (2) posisi lobi dan pemilihan pada standard akuntansi
yang diajukan, dan (3) akibat dari pilihan akuntansi terhadap harga
saham. Masing-masing dari ketiga jenis bukti empiris ini diulas lebih
lengkap pada bagian berikut.
Pilihan atas Teknik atau Metode Akuntansi
Kelompok penelitian pertama mencoba melihat konsekeunsi
ekonomi dari pilihan akuntansi. Artinya, peneliti mencoba melihat
apakah keputusan untuk memilih suatu teknik atau metode akuntansi dapat
dikaitkan dengan beberapa karakteristik perusahaan. Dengan kata lain,
apakah pilihan atas teknik atau metode akuntansi merupakan fungsi dari
beberapa faktor yang melekat pada suatu perusahaan, seperti ukuran
perusahaan, rasio kecukupan utang (leverage), dan keberadaan dari
rencana kompensasi manajemen (bonus). Holthausen dan Leftwich (1983)
membagi kelompok penelitian pertama ini ke dalam tujuh jenis pilihan
akuntansi. Ketujuh jenis pilihan akuntansi tersebut adalah sebagai
berikut.
1. metode penyusutan, pilihan antara percepatan (accelerated) dan
garis lurus (straight-line),
2. perlakuan bunga, pilihan antara mengkapitalisasi (capitalize) dan
dianggap sebagai biaya (expense),
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 95
3. penilaian persediaan, pilihan antara menggunakan metode
pengakuan persediaan FIFO dan LIFO,
4. perlakuan terhadap kredit pajak investasi, pilihan antara
sistem aliran langsung (flow-through) dan penundaan
(defferal),
5. biaya-biaya ekplorasi gas dan minyak, pilihan antara biaya
penuh (full cost) dan keberhasilan usaha (successful efforts),
6. tanggungan pensiun yang tidak terdanai, panjang pendeknya
periode amortisasi, dan
7. kombinasi (portfolio) dari keempat metode yang ada, penyusutan,
persediaan, kredit pajak investasi, dan amortisasi pensiun.
Penelitian yang ada biasanya menggunakan pendekatan
analisis probit (probit analysis), yaitu suatu analisis statistik yang
berbasis regresi berganda dimana variabel terikat diukur dengan
menggunakan variabel dummy (0/1). Dalam hal ini, teknik akuntansi
merupakan variabel terikat. Sementara untuk variabel bebasnya adalah
proxy dari biaya-biaya kontrak dan pengawasan (yang biasanya terdiri
dari leverage, ada tidaknya rencana kompensasi yang dikaitkan dengan
angka akuntansi [bonus scheme], rasio cakupan utang, besar kecilnya
penyimpangan dividen, dan apakah perusahaan lebih banyak
dikendalikan oleh pemilik atau manajer) dan variabel sensitifitas politis
(yang biasanya terdiri dari ukuran perusahaan, rasio-rasio konsentrasi,
intensitas modal, dan risiko sistematis). Hipotesis yang biasanya diuji
adalah perusahaan yang menghadapi biaya-biaya kontrak dan
pengawasan cenderung tinggi akan cenderung memilih metode (teknik)
akuntansi yang dapat meningkatkan kinerja laba, dan perusahaan yang
memiliki sensitifitas politis tinggi cenderung memilih metode (teknik)
akuntansi yang menurunkan laba.
Perilaku Lobi dan Pemilihan
Setidaknya ada dua jenis penelitian yang berbasis perilaku lobi
dan pemilihan (voting and lobying behavior). Jenis pertama memprediksi
posisi lobi perusahaan sebagai fungsi dari karakteristik atau ciri-ciri khusus
perusahaan, seperti efek dari standard akuntansi yang diajukan terhadap
laba (pendapatan), keberadaan rencana kompensasi manajemen, dan
sensitifitas politis perusahaan (lihat Watts dan Zimmerman, 1978).
Sementara jenis kedua menguji hubungan antara posisi dari otoritas
penetap standard (di Indonesia adalah Ikatan Akuntan Indonesia [IAI],
di Amerika adalah Financial Accounting Standards Board [FASB]), dan
pihak-pihak yang menjadi obyek atau target dari produk akuntansi standard
tersebut, seperti perushaan, auditor, dan akademisi (lihat Brown, 1981).
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
96 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
Watts dan Zimmerman (1978) mungkin adalah peneliti
pertama yang mencoba mencari jawaban terhadap faktor-faktor yang
menyebabkan adanya motivasi terjadinya lobi yang dilakukan oleh
perusahaan. Watts dan Zimmerman menemukan bukti yang signifikan
bahwa ukuran perusahaan merupakan faktor utama yang menyebabkan
munculnya upaya lobi terhadap otoritas akuntansi standard (standard
setting bodies) oleh manajer perusahaan. Perusahaan besar (big
company) yang dalam banyak hal mudah menjadi sorotan publik
(politically sensitive corporation) memiliki dorongan yang kuat untuk
melakukan lobi bilamana ada suatu peruaturan akuntansi baru yang
dapat mempengaruhi kinerja keuangannya dalam jangka panjang.
Disamping itu, perusahaan besar juga memiliki dorongan yang kuat untuk
tidak terlalu menonjolkan keuntungan (reported income) karena kekuatiran
munculnya tudingan mendapatkan fasilitas khusus atau monopoli. Bukti
empiris cenderung mendukung hipotesis bahwa perusahaan besar akan
memilih metode akuntansi yang menurunkan laba (income decreasing)
(lihat Watts dan Zimmerman, 1986: 222-243). Zmijewski dan Hagerman
(1981) menunjukkan bukti empiris yang mendukung hipotesis politis.
Efek Pilihan Akuntansi terhadap Harga Saham
Penelitian empiris yang mencoba menguji ada tidaknya efek
pilihan akuntansi terhadap harga saham perusahaan menggunakan
analisis regresi untuk menjelaskan variasi cross-sectional kinerja
abnormal perusahaan di sekitar waktu penerapan teknik akuntansi.
Variabel penjelas (bebas) yang sering digunakan dalam pengujian
meliputi proxy biaya-biaya kontrak dan pengawasan serta faktor-faktor
yang terkait dengan sensitifitas politis perusahaan.
Perubahan-perubahan akuntansi yang diamati sejauh ini
mencakup tiga hal, yaitu (1) purchase versus pooling, (2) full cost
versus successful efforts, dan (3) accelerated versus staright line
depreciation. Sayangnya, hasil pengujian sejauh ini belum cukup
konklusif untuk sampai pada kesepakatan bahwa pilhan akuntansi
mampu mempengaruhi harga saham (nilai) perusahaan.
BEBERAPA POIN PENTING
Setidaknya terdapat tiga hal penting yang harus dicermati,
utamanya mengarah kepada sisi kelemahan, berkaitan dengan
pengujian terhadap teori konsekuensi ekonomi dari sisi metodologi.
Ketiga hal dimaksud adalah (1) spesifikasi atau penetapan dari variabel
terikat, (2) spesifikasi atau penetapan dari variabel bebas, dan (3)
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 97
kemungkinan akibat dari pilihan akuntansi dalam hubungannya dengan
kekuatan dari uji yang dilakukan.
Kelemahan yang terkait dengan spesifikasi variabel terikat
lebih banyak difokuskan pada penggunaan variabel dummy.
Misalnya, Hagerman dan Zmijewski (1979) menggunakan variabel
dummy baik itu metode akuntansi yang dapat ‘menaikkan laba’ atau
‘menurunkan laba’. Padahal dalam kenyataan seringkali didapati bahwa
keputusan untuk menggunakan suatu metode akuntansi tertentu
dibandingkan dengan metode akuntansi yang lain hanya masalah
waktu (timing). Kelemahan lain yang bisa dicermati adalah adanya
upaya dari peneliti untuk mengisolasi efek dari keputusan penggunaan
metode akuntansi terhadap keputusan atau kebijakan lain. Upaya untuk
mengisolasi efek suatu metode akuntansi tentunya tidak dengan mudah
dapat dilakukan tanpa harus mempertimbangkan keputusan lain yang
dilakukan oleh manajer (perusahaan).
Dalam hal peneliti menguji efek metode akuntansi terhadap
harga saham, masalah-masalah serius yang muncul adalah yang berkaitan
dengan (1) pemilihan tanggal kejadian dan/atau (2) harapan investor.
Peneliti seringkali mengalami kerancuan atas efek suatu metode akuntansi
terhadap periode waktu kapan metode tersebut dilakukan, apakah awal
tahun, tengah tahun atau akhir tahun. Investor, di satu sisi, memiliki tingkat
ekspektasi (harapan) yang beragam dan dilandasi oleh berbagai motif
sebelum mengambil keputusan beli atau jual.
Kelemahan yang terkait dengan spesifikasi variabel bebas lebih
banyak diarahkan pada kesulitan dalam memilih dan menetapkan proxy
untuk sensitifitas politis dan biaya-biaya kontrak dan pengawasan. Teori yang
ada belum banyak memberikan penjelasan yang kuat terhadap alasan
bahwa keputusan manajer untuk memilih suatu metode akuntansi
tertentu tidak dapat secara sederhana dikaitkan dengan sesuatu yang
dapat diamati saja (observable factors). Manajer mungkin memiliki
motivasi atau alasan lain yang tidak dapat dengan mudah diukur atau
dicari proxy yang tepat. Artinya, pemilihan atas proxy akan sangat
mempengaruhi hasil dan juga intepretasinya. Seringkali, peneliti juga
menggunakan variabel dummy, baik itu dummy dengan pendekatan
dua kategori (dichotomous) ataupun tiga kategori (trichotomous), untuk
mencari jawaban bahwa aksi manajer lebih mengarah ke sisi positif
atau negatif semata.
Kelemahan ketiga, yaitu yang terkait dengan hubungan antara
akibat dari pilihan akuntansi dan kekuatan uji yang digunakan,
berhubungan dengan pertanyaan sejauh mana efek dari pilihan
akuntansi terhadap kemakmuran manajer. Atau dengan kata lain,
adakah transfer kemakmuran sebagai akibat langsung dari praktek
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
98 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
pemilihan metode akuntansi tertentu yang diterima oleh manajer atau
pemegang saham. Ada kemungkinan efek yang mucul tidak signifikan
pada satu aspek, tetapi mungkin akan sangat signifikan pada aspek
yang lain. Disamping itu, walaupun secara empiris dan statistik
hubungan yang ditemukan sangat signifikan, baik diukur dengan nilai t
atau F statistik, cukupkah kita percaya kepada besar kecilnya tingkat
signifikansi semata?. Jawabannya tentu akan sangat bervariasi tergantung
kepada model yang digunakan dan juga kondisi serta karakteristik dari
obyek yang diteliti.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Berdasarkan pada ulasan di muka, ada beberapa kesimpulan
penting yang dapat ditarik. Pertama, manajer memiliki kesempatan
untuk menggunakan teknik-teknik atau metode-metode akuntansi
(accounting techniques or methods) bilamana penggunaan tersebut akan
dapat mempengaruhi kinerja keuangan (accounting performance)
perusahaan. Pemilihan teknik-teknik akuntansi, apakah yang dapat
menurunkan atau menaikkan laba (decreasing or increasing income),
sangat tergantung kepada alasan atau motivasi para penanggung jawab
pembuat laporan keuangan.
Kedua, biaya-biaya kontrak dan pengawasan (contract and
monitoring costs) merupakan salah satu sarana yang dapat dijadikan
sebagai pengendali atas munculnya hasrat manajer untuk menggunakan
teknik atau metode akuntansi yang dapat mempengaruhi kinerja
(performance) keuangan perusahaan. Biaya kontrak atau pengawasan
yang mengikat akan dapat ‘membatasi’ gerak manajer. Artinya,
fleksibilitas manajer menjadi terbatas dengan adanya aturan yang ketat
terhadap hal-hal yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan yang mana
dalam banyak hal manajer lebih memiliki kewenangan dalam proses
penyiapan dan penyusunan laporan keuangan.
Ketiga, bukti empiris secara umum mendukung pendapat yang
menyatakan bahwa pemilihan suatu metode akuntansi tertentu oleh
manajer sangat erat kaitannya dengan insentif atau dorongan yang
dimiliki oleh manajer baik yang menyebabkan laba berubah naik atau
turun. Artinya, penggunaan suatu metode akuntansi merupakan cermin
langsung dari sampai sejauh mana manajer menyikapi laba akuntansi
sebagai sesuatu yang penting untuk dikendalikan.
Rekomendasi
Menyikapi bahwa telah begitu banyak penelitian empiris yang
mencoba mencari jawaban atas tindakan manajer memilih suatu metode
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 99
akuntansi, adalah merupakan kesempatan bagi peneliti akuntansi di
Indonesia untuk mencoba juga mengungkap fenomena yang mampu
menjelaskan alasan atau motivasi manajer untuk memilih suatu metode
akuntansi dalam laporan keuangan. Penerapan Prinsip Standard Akuntansi
Keuangan (PSAK) yang berlaku per Januari 1995 dan yang sosialisasinya
sudah dilakukan beberapa bulan sebelumnya merupakan kesempatan
menarik untuk meneliti efek dari pemberlakuan PSAK tersebut terhadap
kinerja keuangan perusahaan. Tidak dapat disangkal bahwa setiap
peraturan akuntansi baru akan dapat mempengaruhi kinerja suatu
perusahaan bila perusahaan tersebut menerapkannya. Permasalahannya
adalah kapan perusahaan akan menerapkannya, apakah jauh hari
sebelum waktu efektif berlakunya atau pada saat waktu berlakunya.
Keputusan manajer untuk menerapkan lebih awal atau menunggu
sampai saat berlakunya seringkali didasarkan pada alasan-alasan
khusus yang ujung-ujungnya adalah efeknya terhadap kinerja keuangan.
Penelitian lain yang dapat dilakukan adalah pengamatan
terhadap praktek penyusunan laporan keuangan antar perusahaan.
Dalam hal ini, yang menjadi sorotan adalah apakah terdapat perbedaan
terhadap teknik atau metode akuntansi yang digunakan oleh perusahaan
yang satu dan perusahaan yang lain. Pengamatan terhadap masingmasing
kelompok industri juga sangat mungkin untuk dilakukan untuk
mengetahui apakah teknik akuntansi tertentu lebih banyak digunakan
oleh satu jenis industri tetapi tidak oleh industri yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ball, R.J. [1972]. “Changes in Accounting Techniques and Stock Prices”.
Empirical research in Accounting: Selected Studies 1972,
supplement volume 10 Journal of Accounting Research, pp. 1-38.
Brown, P.R. [1981]. “A Descriptive Analysis of Select Input Bases of
Financial Accounting Standards Board”. Journal of Accounting
Research, Spring, pp. 232-246.
Christie, A.A. [1990]. “Aggregation of Test Statistics: An Evaluation of
the Evidence on Contracting and Size Hypotheses”. Journal of
Accounting and Economics, 12, pp. 15-36.
Dechow, P.M. and Skinner, D.J. [2000]. “Earnings Management:
Reconciling the Views of Accounting Academics, Practitioners, and
Regulators”. Accounting Horizons 14 (2), pp. 235-250.
Dye, R.A. [1988]. “Earnings Management in an Overlapping Generations
Model”. Journal of Accounting Research, pp. 195-235.
ISSN: 1410 – 2420 Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan Akuntansi dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positif
100 JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002
Hagerman, R.L. dan Zmijewski, M. [1979]. “Some Economic
Determinants of Accounting Policy Choices”. Journal of
Accounting and Economics, 1, pp. 141-161.
Healy, P.M. [1985]. “The Effects of Bonus Schemes on Accounting
Decisions”. Journal of Accounting and Economics, 7, pp. 85-
107.
Healy, P.M. and Wahlen J.M. [1999]. “A Review of the Earnings
Management Literature and Its Implications for Standard
Setting”. Accounting Horizons, 13 (4), pp. 365-383.
Holthausen, R.W. [1990]. “Accounting Method Choice: Opportunistic
Behavior, Efficient Contracting, and Information Perspective”.
Journal of Accounting and Economics, 12, pp. 207-218.
Holthausen, R.W. dan Leftwich, R.W. [1983]. “The Economic
Consequences of Accounting Choice: Implication of Costly
Contracting and Monitoring”. Journal of Accounting and
Economics, 5, pp. 77-117.
Holthausen, R.W., Larcker, D.F. and Sloan, R.G. [1995]. “Annual Bonus
Schemes and Manipulation of Earnings”. Journal of Accounting
and Economics, 19, pp. 29-74.
Kaplan, R.S. dan Roll, R. [1972]. “Investor evaluation of accounting
information: Some empirical evidence”. Journal of Business, 45,
pp. 225-257.
Schipper, K. [1989]. “Commentary on Earnings Management”.
Accounting Horizons 3 (4), pp. 91-102.
Sunder, S. [1973]. Relationship Between Accounting Changes and
Stock Prices: Problems of Measurement and Some Empirical
Evidence”. Empirical research in Accounting: Selected
Studies 1973, suplemen volume 11 Journal of Accounting
Research, pp. 305-315.
Trueman, B. dan Titman, S. [1988]. “An Explanation for Accounting Income
Smoothing”. Journal of Accounting Research, pp. 127-139.
Watts, R.L. [1977]. “Corporate Financial Statements: A Product of the
Market and Political Processes”. Australian Journal of
Management, April, pp. 52-75.
Tatang Ary Gumanti, Pilihan-pilihan dalam Aplikasi Teori Akuntansi Positi f ISSN: 1410-2420
JAAI VOLUME 6 No. 1, JUNI 2002 101
Watts, R.L. dan Zimmerman, J. [1978]. “Towards a Positive Theory of the
Determination of Accounting Standard”. Accounting Review,
January, pp. 112-134.
Watts, R.L. dan Zimmerman, J.L. [1986]. Positive Accounting Theory. New
Jersey: Prentice Hall.
Zmijewski, M. dan Hagerman. R. [1981]. “An Income Strategy
Approach to the Positive Theory of Accounting Standard
Setting/Choice”. Journal of Accounting and Economics, 3, pp.
129-149.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/03/2013 in Teori Akuntansi

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: