RSS

PENGAKUAN ASSET

12 Mar

PENGAKUAN ASSET

Pengakuan asset pada neraca mengakibatkan adanya kondisi yang disebut dengan aturan pengakuan. Aturan ini dibuat karena akuntan membutuhkan bukti untuk mendukung pencatatan asset dalam lingkungan ketidakpastian. Akuntan ingin memastikan bahwa elemen-elemen asset memang ada dan pencantuman di neraca memberikan informasi yang bermanfaat dimana informasi tersebut relevan dan reliable.

Beberapa aturan pengakuan menggunakan cara konvensional. Dua contoh aturan pengakuan konvensional:

  1. Piutang dagang dicatat sebagai asset ketika terjadi penjualan kredit.
  2. Peralatan dicatat sebagai asset ketika asset dibeli.

Sebagai contoh pedoman pengakuan yang secara khusus adalah pedoman untuk pengakuan akuntansi sewa sebagai asset. Akuntansi untuk lessee:

  1. Transfer kepemilikan asset sewa guna usaha kepada lessee terjadi pada akhir masa sewa.
  2. Lessee mempunyai pilihan untuk membeli asset pada harga yang diperkirakan lebih rendah dari nilai wajar yang terjadi pada tanggal opsi.
  3. Masa sewa guna usaha menjadi bagian penting dari masa manfaat asset walaupun asset tidak ditransfer.
  4. Pada masa awal sewa, present value dari jumlah pembayaran sewa minimum atau setidaknya substansial dari nilai wajar asset yang disewakan.
  5. Asset yang disewakan merupakan asset yang dapat digunakan oleh lessee tanpa modifikasi.

 

Dalam praktek akuntansi, aturan pengakuan digunakan untuk mengidentifikasi elemen asset dapat digeneralisasi menjadi beberapa criteria. Dengan catatan bahwa ada perbedaan antara aturan pengakuan, yaitu aturan khusus untuk mengidentifikasi elemen asset, dan criteria pengakuan, yaitu pedoman umum yang digunakan untuk menyusun aturan pengakuan dan pedoman pengakuan.

Banyak kriteria pengakuan yang telah diaplikasikan untuk membantu akuntan dalam memutuskan dalam pencatatan asset. Tidak semua criteria disusun dalam kerangka, dan beberapa mempunyai sedikit bahkan tidak ada dasar teorinya.

  1. Kepercayaan dengan hukum.

Pengakuan asset tergantung pada konsep asset itu sendiri. Pencacatan piutang dagang berdasar dari penjualn persediaan dan pembelian asset tetap memberikan hak legal untuk digunakan sebagai contoh. Standar ini berkaitan dengan relevansi maupun reliabilitas dari informasi akuntansi. Pengendalian, dibanding dengan kepemilikan legal, digunakan untuk menjelaskan keberadaan asset.

Berdasarkan kerangka paragraph 35:

“Jika informasi dimaksudkan untuk menunjukkan keadaan yang sebenarnya dari transaksi maupun kejadian yang merupakan isi pokok untuk ditunjukkan, maka transaksi dan kejadian tersebut penting untuk dihitung dan ditunjukkan sehubungan dengan hakekat dan realita ekonominya dan bukan hanya dari bentuk legalnya.” Keberadaan dari legal rights merupakan indicator, tetapi bukan sebagai standar untuk pengakuan asset.

  1. Penentuan hakekat ekonomi dari transaksi atau kejadian.

Untuk mengetahui dengan pasti hakekat ekonomi dari transaksi yang berhubungan dengan tujuan pelaporan informasi yang relevan dan reliable, materialitas adalah faktornya. Jika kejadian signifikan secara ekonomi, maka penting untuk dicatat dan dilaporkan. Materialitas dijelaskan dalam kerangka paragraph 30, sebagai berikut:

“Informasi material jika penghilangan atau pernyataan yang salah dapat mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi oleh pemakai sebagai dasar pembuatan laporan keuangan.”

  1. Penggunaan conservatism (prudence prinsiple): anticipate losses but no gains. Dinyatakan dalam kerangka paragraph 37:

“Kebijaksanaan pencantuman derajat kehati-hatian dalam penilaian yang dibutuhkan ketika membuat perkiraan dalam kondisi ketidakpastian, seperti asset atau pendapatan yang tidak dinyatakan terlalu tinggi dan utang atau biaya yang tidak dinyatakan terlalu rendah.”

Konservatism menyatakan bahwa utang dicatat terlebih dulu tetapi tidak untuk asset. Sebagai contoh, jika perusahaan mengalami kerugian dalam perkara hukum, maka kerugian tersebut akan dicatat sebagai utang. Tetapi jika perusahaan sebagai penggugat memenangkan perkara hukum tersebut, maka tidak ada asset yang dicatat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/03/2013 in Teori Akuntansi

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: