RSS

ASSET

12 Mar
  • LO – 1 : ASSET DEFINED

Asset adalah sumber daya yang dapat dikendalikan oleh perusahaan yang diperoleh dari kejadian masa lalu yang diharapkan mempunyai nilai keuntungan ekonomik dimasa yang akan datang.

  1. Keuntungan Ekonomi di masa yang akan dating
  • Asset yang diharapkan mempunyai keuntung ekonomik dimasa yang akan datang adalah bahwa asset tersebut mampu atu mempunyai peran yang penting dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan untuk menghasilkan keuntungan
  • Peran asset disini baik secara langsung maupun tidak dalam menunjang operasional perusahaan. Baik perusahaan profit maupun non profit oriented
  • Asset tidak hanya dapat memberikan peran dalam menunjang operasional, tetapi juga dapat membantu perusahaan dalam mencapai tujuan – tujuan yang lain.
  • Dalam membantu keuntungan dimasa yang akan datang, aseet mempunyai dua karakteristik, yaitu Kelangkaan dan Manfaat. Definisi kelangkaan disini bahwa asset tidak bias diperoleh secara mudah, butuh pengorbanan untuk mendapatkannya dan tentu asset tersebut dapat mempunyai manfaat setelah diperolehnya.

 

  1. Dapat Dikendalikan Oleh Perusahaan
  • Dalam akuntansi, sebuah akuntansi tidak hanya dibenttuk oleh sebuah sumber daya semata, tetai juga kemampuan perusaan tersebut dalam mengendalikan sumber daya yang dimiliki
  •  Sebelum melakukan pengontrolan terhadap suatu asset, perusahaan tersebut harus terlebih dahulu memastikan bahwa asset tersebut telah dimiliki secara penuh.
  • Pengendalian asset disini tidak bersifat absolute, tetapi ada jangkuan – jangkuannya.
  • Kepemilikan sering dihubungkan dengan pengendalian, tetapi bukan utama dari karakteristik sebuah asset.
  • Contoh : barang dagangan merupakan barang yang adapat dikendalikan oleh perusahaan, tetapi secara definisi barang dagangan bukan termasuk asset.

 

  1. Kejadian Masa Lalu
  • Termasuk kualifikasi bahwa asset dikendalikan oleh perusahaan sebagai hasil dari kejadian masa lalu, dalam kualifikasi tersebut berarti bahwa asset yang masih direncakan tidak termasuk dalam sebuah asset.
  • Asset yang masih direncakan dalam sebuah anggaran tidak termasuk dalam asset.
  • Ketika perusahaan telah bekerja sama dengan rekanan untuk membangun sebuah kantor, maka pelaporan sebagai asset adalah berapa persenkah yang telah dikerjakan.

 

 

 

  1. Dapat Ditukar
  • Dapat ditukar mempunyai arti bahwa sebuah item yang dapat dipisahkan dari sebuah entitas, dan dalam pembagian nilai dapat dipisahkan dari nilai – nilai pada entitas.
  • Sebuah benda yang tidak mempunyai nilai tukar harus dikurangi dari nilai ekonomi, karena mustahil suatu pembelian maupun penjualan harus selamanya ada.
  • Asset yang mempunyai efek spesial dalam kondisi ini adalah goodwill, karena goodwill tidak dapat dijual secara terpisah sendiri dari asset yang lain.

 

  • LO – 2 : PENGAKUAN ASSET

Pengakuan asset pada neraca mengakibatkan adanya kondisi yang disebut dengan aturan pengakuan. Aturan ini dibuat karena akuntan membutuhkan bukti untuk mendukung pencatatan asset dalam lingkungan ketidakpastian. Akuntan ingin memastikan bahwa elemen-elemen asset memang ada dan pencantuman di neraca memberikan informasi yang bermanfaat dimana informasi tersebut relevan dan reliable.

Beberapa aturan pengakuan menggunakan cara konvensional. Dua contoh aturan pengakuan konvensional:

  1. Piutang dagang dicatat sebagai asset ketika terjadi penjualan kredit.
  2. Peralatan dicatat sebagai asset ketika asset dibeli.

Sebagai contoh pedoman pengakuan yang secara khusus adalah pedoman untuk pengakuan akuntansi sewa sebagai asset. Akuntansi untuk lessee:

  1. Transfer kepemilikan asset sewa guna usaha kepada lessee terjadi pada akhir masa sewa.
  2. Lessee mempunyai pilihan untuk membeli asset pada harga yang diperkirakan lebih rendah dari nilai wajar yang terjadi pada tanggal opsi.
  3. Masa sewa guna usaha menjadi bagian penting dari masa manfaat asset walaupun asset tidak ditransfer.
  4. Pada masa awal sewa, present value dari jumlah pembayaran sewa minimum atau setidaknya substansial dari nilai wajar asset yang disewakan.
  5. Asset yang disewakan merupakan asset yang dapat digunakan oleh lessee tanpa modifikasi.

 

Dalam praktek akuntansi, aturan pengakuan digunakan untuk mengidentifikasi elemen asset dapat digeneralisasi menjadi beberapa criteria. Dengan catatan bahwa ada perbedaan antara aturan pengakuan, yaitu aturan khusus untuk mengidentifikasi elemen asset, dan criteria pengakuan, yaitu pedoman umum yang digunakan untuk menyusun aturan pengakuan dan pedoman pengakuan.

Banyak kriteria pengakuan yang telah diaplikasikan untuk membantu akuntan dalam memutuskan dalam pencatatan asset. Tidak semua criteria disusun dalam kerangka, dan beberapa mempunyai sedikit bahkan tidak ada dasar teorinya.

  1. Kepercayaan dengan hukum.

Pengakuan asset tergantung pada konsep asset itu sendiri. Pencacatan piutang dagang berdasar dari penjualn persediaan dan pembelian asset tetap memberikan hak legal untuk digunakan sebagai contoh. Standar ini berkaitan dengan relevansi maupun reliabilitas dari informasi akuntansi. Pengendalian, dibanding dengan kepemilikan legal, digunakan untuk menjelaskan keberadaan asset.

Berdasarkan kerangka paragraph 35:

“Jika informasi dimaksudkan untuk menunjukkan keadaan yang sebenarnya dari transaksi maupun kejadian yang merupakan isi pokok untuk ditunjukkan, maka transaksi dan kejadian tersebut penting untuk dihitung dan ditunjukkan sehubungan dengan hakekat dan realita ekonominya dan bukan hanya dari bentuk legalnya.” Keberadaan dari legal rights merupakan indicator, tetapi bukan sebagai standar untuk pengakuan asset.

  1. Penentuan hakekat ekonomi dari transaksi atau kejadian.

Untuk mengetahui dengan pasti hakekat ekonomi dari transaksi yang berhubungan dengan tujuan pelaporan informasi yang relevan dan reliable, materialitas adalah faktornya. Jika kejadian signifikan secara ekonomi, maka penting untuk dicatat dan dilaporkan. Materialitas dijelaskan dalam kerangka paragraph 30, sebagai berikut:

“Informasi material jika penghilangan atau pernyataan yang salah dapat mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi oleh pemakai sebagai dasar pembuatan laporan keuangan.”

  1. Penggunaan conservatism (prudence prinsiple): anticipate losses but no gains. Dinyatakan dalam kerangka paragraph 37:

“Kebijaksanaan pencantuman derajat kehati-hatian dalam penilaian yang dibutuhkan ketika membuat perkiraan dalam kondisi ketidakpastian, seperti asset atau pendapatan yang tidak dinyatakan terlalu tinggi dan utang atau biaya yang tidak dinyatakan terlalu rendah.”

Konservatism menyatakan bahwa utang dicatat terlebih dulu tetapi tidak untuk asset. Sebagai contoh, jika perusahaan mengalami kerugian dalam perkara hukum, maka kerugian tersebut akan dicatat sebagai utang. Tetapi jika perusahaan sebagai penggugat memenangkan perkara hukum tersebut, maka tidak ada asset yang dicatat.

 

  • LO – 3 : PENILAIAN ASSET

 

–          Pengukuran asset merupakan hal yang sangat penting yang merupakan sebagai petunjuk dalam pengkuran informasi dalam pelaporan keuangan.

  1. Asset Berwujud

–          Dalam bab sebelumnya, telah dibahas bahwa pendekatan pengukuran dalam penilaian adalah dengan Historical cost

–          Dalam pengukuran asset berwujud dalam kalangan internasional lebih banyak menggunakan historical cost, tetapi tidak menutup kemungkinan menggunakan penggunaan pendekatan yang lain, dalam pengukuran asset.

–          Pengukuran asset berwujud juga dapat menggunakan current cost

–          Pengukuran asset berwujud, harus menggunakan satu pendekatan yang konsisten digunakan, ini bertujuan agar informasi nilai asset yang disajikan dalam laporan keuangan tidak berubah

–          Penggunaan current cost dalam penilaian asset dapat memberikan informasi yang lebih akura daripada historical cost.

–          Manajer mungkin akan menilai kembali asset berwujudnya dengan current cost, untuk memastikan bahwa asset pada neraca dinilai tidak dengan nilai yang minimum .

 

  1. Asset tidak berwujud

–          Asset yang tidak berwujud yang mempunyai nilai material tinggi, harus dihitung seperti juga asset berwujud.

–          Pada umumnya asset tidak berwujud dihitung berdarkan ats biaya perolehan atau akuisasi.

–          Pendekatan menggunakan cureent cos sangat jarang, karena asset tidak berwujud tidak aktif diperjual belikan pada pasar, sehingga harga pasar sulit ditemukan.

–          Pada IAS no 38, disebutkan bahwa larangan pengakuan secara umum suatu asset tidak berwujud.

–          Walaupun pengeluaran yang digunakan untuk mendapatkan asset tidak berwujud akan memberikan keuntungan dimasa yang akan datang, pernyataan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai dasar karena tidak dapat menghasilkan identifikasi asset secara tersendiri.

–          Salah satu cara melihat nilai asset tidak berwujud secara umum adalah dapat dilihat pada neraca melalui perkembangan biaya kapitalisasi, dengan penjelasan sebelumnya.

–          Penilaian sebuah asset tidak berwujud mengandung perdebatan, karena penilaian asset tidak terwujud menggunakan asumsi – asumsi subjektif

  1. Instrument Keuangan

–          Pada IAS 39, menimbulkan pemisahan kategori dari asset keuangan dan utang dan aturan – aturan pengukuran.

–          Banyak pendapat bahwa prinsip historical cost kurang tepat dalam pengukuran beberapa instrument keuangan

–          Penggunaan historical cost terutama pada penilaina asset kuarang menunjukan informasi yang tepat bagia para pihak – pihak yang berkepentingan dalam pengembilan keputusan

–          Dalam instrument keuangan, ada juga istrumen yang lain, yang kurang tepat dalam penilaian menngunakan current cust.

–          Pertentangan pengukuarn ini akan terus berlangsung, karena memang masing – masing intrumen keuangan mempunyai karakteristik yang berbeda dalam penilaian, tetapi dalam aturan akuntansi penyajian pelaporan keuangan mengharuskan penilaian instrument hanya boleh menggunakan satu pendekatan secara konsisten.

 

  • LO – 4 DAN 5 : TANTANGAN UNTUK PEMBUAT-PEMBUAT STANDARD dan ISU – ISU   AUDITOR

Yang mana model pengukuran?

–            FASB dan IASB bermaksud untuk menjelaskan persoalan-persoalan pengukuran di dalam fase C pada project kerangka konseptual.

–            Persoalan-persoalan dipertimbangkan di dalam dasar-dasar potensi pengukuran yaitu : past entry atau harga keluaran, modified past amount, current entry, keluaran atau keseimbanhan harga, nilai di dalam penggunaan masukan selanjutnya atau exit price.

–            Pertimbangan konsep-konsep pengukuran meliputi prinsip-prinsip dan istilah-istilah.

–            Untuk mengevaluasi dan merangking metode-metode pengukuran membutuhkan karakteristik-karakteristik yang kualitatif pada informasi keuangan.

–            Cairs berpendapat bahwa nilai pengukuran yang fair berkembang luas di bawah IFRS dan lebih menitikberatkan pada persepsi daripada kenyataan.

–            IASB dan FASB adalahh pendukung pada penilain pengukuran secara adil ke tingkat yang lebih baik.

Bagaimana untuk menghitung nilai pengukuran yang fair?

SFAS 157 “fair value measurement” pada FASB (2007) menyediakan contoh-contoh pada teknik-teknik penilaian yang digunakan untuk mengestimasi nilai yang fair, yaitu :

  1. Pendekatan pasar

Menggunakan observasi harga dan informasi dari transaksi-transaksi acrual yang sama, serupa atau sebandig dengan aset-aset atau utang-utang.

  1. Pendekatan pendapatan (income approach)

Konversi pada jumlah yang akan datang (seperti aliran kas atau earnings) untuk pemberian potongan tunggal pada jumlahsaat ini.

  1. Pendekatan biaya

Ketetapan jumlah dibutuhkan untuk mengganti kapasitas servis (penggantian biaya tetap).

Pernyataan FASB juga menyediakan sebuah “fair value hierarchy”, tiga level yang digunakan untuk mengestimasi adalah :

  1. Level  1

Menggunakan harga kuota untuk aset-aset dan utang-utang yang sama di dalam referensi pasar-pasar yang aktif yag sewaktu-waktu informasi dapat tersedia.

  1. Level 2

Jika harga-harga kuota untuk aset-aset dan utang-utang yang sama di dalam pasar-pasar yang aktif tidak tersedia, maka penilaian akan diestimasi pada harga-harga kuota untuk aset-aset atau utang-utang yang mirip di dalam pasar-pasar aktif.

  1. Level 3

Jika harga-harga kuota untuk aset-aser dan utang-utang sama atau serupa di dalam pasar-pasar aktif tidak tersedia, atau perbedaan antara aset-aset dan utang-utang yang serupa tidak dapat menentukan obyektivitas, nilai yang fair akan diestimasi menggunakan penilaian dengan bermacam-macam teknik yang konsisten dengan pasar, pendekatan pendapatan dan biaya.

 

  • Isu-isu untuk Auditor

–          Auditor membutuhkan pengertian yang lebih tentang model-model penilaian dan proses-proses management yang menentukan input model-model yang mereka miliki (penilai adalah pengguna).

–          Untuk mengembangkap sebuah pendekatan audit yang efektif, auditor harus mengerti proses perusahaan kliennya dn kontrol-kontrol yang relevant  untuk menentukan nilai-nilai yang fair, dan membuat sebuah pendapat pada metode-metode pengukuran perusahaan dan asumsi-asumsi  yang tepat untuk menyediakan dasar yang masuk akal untuk nilai pengukuran yang fair.

–          Auditor membutuhkan apresiasi potensi bias management dan kemungkinan terjadinya kesalahan di dalam pengaplikasian penilaian model-model, mengidentifikasi input-input pasar, dan membuat asumsi-asumsi yang dibutuhkan.

–          Penggunaan fair value untuk aset lebih tepat untuk management (kemungkinan resiko untuk auditor kecil) selama periode pada penilaian aset.

–          Auditor harus memenuhi semua penyediaan pengukuran di dalam akun-akun perusahaan dan harus secara tepat dan wajar di dalam menyikapi pengaruh dorongan manager.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12/03/2013 in Teori Akuntansi

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: