RSS

Harga transfer

13 Mei

Harga Transfer

Organisasi yang melakukan desentralisasi dengan membentuk pusat laba, biasanya masih ada kerjasama antar pusat laba yang dibentuknya. Bentuk kerjasamanya antara lain; Terjadinya kegiatan secara bersama yang menyebabkan adanya; Biaya bersama, pendapatan bersama dan kegiatan produksi bersama yaitu produk suatu pusat laba yang digunakan sebagai salah satu bahan baku /jasa yang digunakan pusat laba yang lainnya. Dalam bab ini akan dibicarakan mengenai bagaimana penetapaan harga dari output suatu pusat laba yang digunakan sebagai input pusat laba yang lainnya, yang disebut dengan harga transfer.

Tujuan Penetapan harga Transfer:
Harga transfer merupakan mekanisme untuk mendistribusikan pendapatan, untuk beberapa pusat laba yang melakukan kegiatan bersama dalam menghasilkan suatu produk. Misalnya untuk perusahaan sepatu kulit, yang mempunyai divisi pengolah kulit dan divisi sepatu kulit. Divisi Sepatu kulit membutuhkan kulit yang sudah diolah untuk diproses menjadi sepatu, maka perlu ditetapkan berapa harga kulit yang dihasilkan oleh divisi pengolah kulit. Dalam hal ini perlu ditetapkan harga yang sesuai untuk kedua divisi tersebut, kalau terlalu mahal akan merugikan divisi sepatu karena harga transfer merupakan unsure biaya divisi sepatu dan serbaliknya kalau terlalu murah akan merugikan divisi pengolah kulit, karena harga transfer merupakan unsure pendapatan divisi pengolah kulit. Harga kulit tersebut adalah harga transfer. Dalam menetapkan harga transfer harus mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:
1. Setiap unit bisnis harus memperoleh informasi yang relevan untuk menetapkan trade off yang optimum antara biaya dan pendapatan.
2. Sistem tersebut harus dirancang untuk mendorong adanya goal congruence, artinya keputusan untuk meningkatkan laba unit bisnis juga akan mendorong peningkatan laba organisasi secara keseluruhan.
3. Sistem tersebut harus dapat mengukur kinerja ekonomik setiap unit bisnis
4. Sistem tersebut harus sederhana sehingga mudah dimengerti dan diterapkan.

Metode harga Transfer
Harga transfer adalah nilai barang atau jasa yang dipertukarkan pada dua atau lebih pusat laba yang ada dalam suatu organisasi. Pada harga transfer tersebut terdapat unsur laba, karena perusahaan yang independent tidaka akan melepaskan barang atau jasa yang dihasilkan pada harga pokok atau dibawahnya.

Prinsip dasar penetapan harga transfer:
Prinsip dasarnya adalah harga transfer harus sama dengan harga yang akan dibebankan apabila transaksi itu dilakukan dengan pihak luar.

Apabila suatu pusat laba dalam perusahaan membutuhkan sumberdaya dalam bentuk barang atau jasa, misalnya pada contoh diatas adalah divisi sepatu kulit yang membutuhakan hasil olahan kulit, maka ada dua keputusan yang harus dilakukan, yaitu:
1. Apakah perusahaan akan memproduksi sumberdaya tersebut didalam perusahaan (dalam hal ini membuat pusat laba pengolah kulit) atau membeli kulit dari luar?. Keputusan ini merupakan keputusan sumber daya.
2. Apabila diproduksi didalam (membuat pusat laba pengolah kulit), maka berapa harga produk kulit tersebut?. Keputusan ini merupakan keputusan harga transfer.

Situasi Ideal pembentukan harga transfer:
Apabila tersedia harga pasar, maka harga transfer yang dibuat berdasarkan harga pasar akan mendorong adanya goal congruence. Akan tetapi kondisi ini sangat jarang terjadi, sehingga diperlukan situasi ideal berikut ini:
• Individu yang kompeten:
Idealnya setiap manajer harus memperhatikan kinerja jangka pendek dan jangka panjang. Anggota organisasi yang terlibat pada kegiatan negosiasi dan arbitrase dalam penetapan harga transfer harus kompeten.

• Lingkungan yang baik:
Dalam melakukan kebijakan, setiap manajer harus memperhatikan laba sebagai tujuan utamanya.
• Harga Pasar:
Harga pasar adalah harga untuk produk atau jasa yang identik dengan produk atau jasa yang ditransfer tanpa ada batasan apapun baik jumlah, waktu dan mutunya. Harga transfer mungkin dapat ditetapkan lebih kecil dari harga pasar untuk menunjukkan penghematan karena terjadinya transaksi didalam organisasi. Hal ini disebabkan karena biaya administrasi dan penjualan yang bias dihemat.
• Kebebasan memperoleh sumberdaya :
Setiap manajer harus mempunyai kebebasan dalam memperoleh sumberdaya yang diperlukan. Pusat laba yang membeli mempunyai kebebasan untuk membeli dari luar, demikian juga pusat laba yang menjual mempunyai kebebasan untuk menjual ke luar. Apabila harga transfer yang ditetapkan didalam tidak sesuai, maka setiap pusat laba bebas melakukan transaksi dengan pihak luar. Metode ini akan berhasil baik apabila setiap divisi mampu menjual seluruh hasilnya keluar dan sebaliknya yang membutuhkan mampu memperoleh semuanya dari luar. Harga transfer merupakan biaya kesempatan (opportunity cost) dari divisi penjual kalau menjual kedalam. Bagi perusahaan biaya relevan bagi produk tersebut adalah harga pasar, karena merupakan kesempatan untuk memperoleh uang dari luar yang hilang karena menjual didalam.
• Informasi lengkap:
Setiap manajer harus mengetahui semua alternative yang tersedia dan setiap biaya dan pendapatan yang relevan.
• Negosiasi:
Harus tersedia mekanisme untuk melakukan negosiasi untuk memperoleh kesepakan antar unit bisnis.
Apabila semua kondisi tersebut tersedia, maka system penetapan harga transfer berdasarkan harga pasar akan mendorong goal congruence. Apabila terdapat beberapa kondisi tidak tersedia maka akan dijelaskan sebagai berikut.

Keterbatasan Sumber daya:
Idealnya manajer divisi pembeli harus mempunyai kebebasan untuk membeli sumberdaya yang diperlukan dari luar. Demikian juga manajer divisi penjual juga mempunyai kebebasan untuk menjual produknya keluar. Tetapi pada kenyataannya seringkali kondisi tersebut tidak dapat diperoleh karena adanya kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan. Berkut ini adalah factor yang perlu dipertimbangkan yang menyebabkan kebebasan untuk melakukan transaksi dengan pihak luar tidak diperoleh.
Keterbatasan pasar:
Pada beberapa perusahaan mungkin terdapat keterbatasan pasar yang disebabkan oleh beberapa hal berikut ini:
1. Kapasitas yang dimiliki didalam perusahaan hanya digunakan untuk kepentingan internal saja, sehingga tidak ditujukan untuk dijual keluar. Misalnya industri kertas yang membutuhkan pulp.
2. Perusahaan menghasilkan produk yang berbeda dengan yang ada dipasar
3. Perusahaan sudah melakukan investasi untuk produk tersebut dengan jumlah yang cukup besar.
Meskipun terdapat keterbatasan pasar, system penetapan harga transfer yang terbaik adalah harga pasar (the competitive price). Pengukuran kinerja dengan menggunakan harga pasar dapat menunjukkan kontribusi setiap unit bisnis pada laba organisasi secara keseluruhan. Selain itu harga pasar dapat mengukur kemampuan setiap pusat laba dibandingkan dengan pesaing.
Berikut ini adalah cara menetapkan harga pasar apabila tidak melakukan transaksi dengan pihak luar:
1. Harga pasar yang dipublikasikan
2. Dibentuk dari hasil penawaran (Bid)
3. Replikasi pada harga pasar produk sejenis yang dijual
4. Replikasi pada harga pasar produk sejenis yang dibeli
Kapasitas industri yang terbatas atau berlebihan:
Apabila Pusat laba penjual tidak mampu menjual seluruh hasil produksinya keluar, berarti terjadi kapasitas industri yang berlebihan. Perusahaan mungkin tidak dapat mencapai laba optimum apabila pusat laba pembeli membeli produk tersebut dari luar sementara kapasitas tersebut tersedia di dalam. Sebaliknya, Apabila Pusat laba pembeli tidak dapat memperoleh produk yang dibutuhkan dari luar, berarti terjadi kapasitas industri yang terbatas. Perusahaan mungkin tidak dapat mencapai laba optimum apabila pusat laba penjual menjual produk tersebut dari luar sementara ada divisi pembeli yang membutuhkan
Apabila transaksi antar unit bisnis di dalam organisasi tersebut relatif kecil dan bersifat sementara, maka biasanya perusahaan menyerahkan keputusan tersebut pada masing-masing unit bisnis tanpa adanya campur tangan dari pusat. Bahkan apabila besarnya transfer antar unit bisnis tersebut cukup signifikan pun, beberapa senior manajer tetap tidak melakukan campur tangan.
Beberapa perusahaan melakukan keputusan sumberdaya tersebut dilakukan oleh pusat. Misalnya, pusat laba penjual meminta pusat laba pembeli tidak melakukan pembelian dari luar sementara dari dalam perusahaan masih tersedia kapasitas. Demikian juga sebaliknya apabila terjadi keterbatasan kapasitas industri, pusat laba penjual tidak melakukan penjualan keluar. Harga yang digunakan tetap menggunakan harga pasar yang merupakan harga yang bersaing (competitive).
Meskipun demikian, masih sering terjadi adanya transaksi dilakukan dengan pihak luar dengan alasan kualitas atau pelayanan yang lebih baik dari luar. Alasan yang lain adalah karena adanya persaingan antar unit bisnis.
Dari beberapa penjelasan diatas, nampak bahwa meskipun terdapat masalah sumberdaya, harga transfer yang terbaik adalah harga pasar. Apabila harga pasar dapat ditaksir maka akan menggunakan harha pasar. Tetapi apabila tidak terdapat harga pasar, maka akan digunakan harga transfer berdasarkan biaya.

Harga transfer berbasis biaya:
Apabila harga pasar tidak tersedia, harga transfer ditetapkan berdasarkan biaya plus laba. Dalam menetapkan harga transfer terdapat dua keputusan yang harus dilakukan, yaitu:
1. Bagaimana menetapkan biaya.
2. bagaimana menghitung laba (profit mark up)

Penetapan Biaya:
Biaya yang digunakan adalah biaya standar. Biaya sesungguhnya tidak akan digunakan, karena apabila terjadi ketidak efisienan di suatu divisi, maka ketidak efisienan tersebut akan ditransfer ke divisi yang lain. Apabila menggunakan biaya standar, harus dibuat standar yang baik dan ketat sebagai dasar untuk memberikan insentif.
Penetapan laba (mark up):
Dalam menetapkan laba, terdapat dua keputusan yang harus dialkukan:
1. Dasar untuk menetapkan laba
2. Jumlah laba yang diperkenankan pada setiap divisi
Cara yang paling sederhana adalah dengan menggunakan dasar prosentase biaya. Apabila dasar ini yang digunakan, maka modal yang digunakan tidak akan mempengaruhi laba. Secara konseptual sebaiknya menggunakan dasar prosentase dari investasi yang digunakan, akan tetapi penentuan besarnya investasi untuk setiap produk yang dihasilkan, sulit dilakukan. Apabila menggunakan biaya histories, maka apabila terdapat fasilitas baru yang ditujukan untuk mengurangi harga, pada kenyataannya mengakibatkan peningkatan biaya.
Masalah berikutnya adalah mengenai jumlah laba yang diperkenankan untuk dinikmati masing-masing pusat laba. Kinerja pusat laba ditunjukkan dari laba yang diperolehnya. Laba yang diperkenankan seharusnya merupakan taksiran tingkat imbal hasil yang akan diperoleh adalah apabila pusat laba tersebut diperlakukan sebagai unit bisnis yang independent yang melakukan penjualan keluar. Sehingga laba yang diperkenankan adalah didasarkan pada investasi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pusat laba pembeli. Investasi akan diperhitungkan berdasarkan standar, dengan asset tetap dan persediaan pada biaya pengganti (replacement cost).

Pembebanan Biaya Tetap dari pusat dan Laba:
Harga transfer dapat menimbulkan permasahan yang cukup serius pada perusahaan yang terintegrasi. Pusat laba yang menjual produk akhir pada pelanggan mungkin tidak menyadari mengenai biaya tetap dan laba yang sudah pada harga beli internal. Meskipun mereka menyadari hal tersebut, mungkin mereka akan menolak untuk mengurangi labanya untuk mengoptimalkan laba perusahaan. Metode untuk mengatasi permasalahan tersebut, akan dijelaskan berikut ini:

Kesepakatan antara unit bisnis
Beberapa perusahaan menetapkan mekanisme formal untuk melakukan pertemuan yang membahas harga pasar yang terjadi dan pembagian laba untuk produk yang melibatkan biaya tetap dari pusat.
Dua tahap penentuan harga (two step Pricing):
Harga transfer ditetapkan berdasarkan dua pembebanan yaitu:
1. Untuk setiap unit produk yang terjual, akan dibebani dengan biaya variable standar
2. Biaya tetap akan dibebankan setiap periode (biasanya setiap bulan) sesuai dengan fasilitas yang digunakan.
Berbagi Laba (Profit sharing):
Apabila dua tahap penetapan harga tidak dapat dilakukan, maka dapat menggunakan metode berbagi laba supaya terjadi keselarasan antara unit bisnis dengan organisasi secara keseluruhan. Pelaksanaan system tersebut adalah sebagai berikut:
1. Produk yang ditransfer ke unit bisnis yang melakukan pemasaran sebesar biaya variable standar.
2. Setelah produk terjual, masing-masing unit bisnis akan berbagi laba, yaitu sebesar harga jual dikurangi biaya produksi dan pemasaran variable.
Metode penetapaan harga transfer ini sesuai untuk produk yang harga jualnya tidak dapat diperoleh secara pasti untuk dihubungkan dengan fasilitas yang digunakan (seperti yang diperlukan dalam metode dua tahap penentuan harga).
Dalam implementasi metode ini ditemui beberapa permasalahan antara lain:
1. Bagaimana cara membagikan laba antar unit bisnis yang berbagi laba, mungkin diperlukan keterlibatan senior manajer untuk menyelesaikan permasalahan ini. Hal ini membutuhakan waktu dan biaya serta tentunya pendelegasian wewenang menjadi tidak sepenuhnya.
2. Adanya camput tangan dari pihak lain, menyebabkan informasi dari dari setiap unit bisnis menjadi tidak valid.
3. Karena kontribusi baru dapat dilakukan setelah produk terjual, maka kinerjanya tergantung pada kemampuan menjual dari divisi yang memasarkan produk ke pelanggan.
Dua set harga :
Pada metode ini, pendapatan unit bisnis produksi dibebani dengan harga jual kepasar dan unit pembeli dibebani dengan biaya total standar. Perbedaannya akan dibebankan pada pusat dan akan di eliminasi pada saat melakukan konsolidasi dari seluruh laporan unit bisnis. Harga transfer ini akan digunakan apabila konflik antara unit penjual dan unit pembeli sering terjadi dan tidak dapat diselesaikan dengan metode lainnya. Dengan metode ini kedua unit bisnis baik pembeli maupun penjual sama-sama diuntungkan.
Meskipun demikian terdapat beberapa kelemahan pada metode ini, antara lain :
1. Jumlah total laba yang dihasilkan unit bisnis yang ada akan lebih besar dibandingkan laba organisasi secara keseluruhan.
2. Sistem ini se akan-akan menunjukkan setiap unit bisnis menghasilkan banyak uang, padahal perusahaan dibebani banyak biaya yang dibebankan dari selisih yang tidak dibebankan pada unit bisnis.
3. Sistem ini mendorong unit bisnis untuk melakukan transaksi internal karena akan menikmati mark up yang lebih baik.
4. Memerlukan tambahan pencatatan, pertama membebani pusat pada saat terjadi transfer kemudian melakukan eliminasi pada saat konsolidasi.
5. Meskipun konflik antar unit bisnis dapat dikurangi, tetapi akan memberikan dampak yang kurang baik bagi organisasi, karena tidak ada usaha perbaikan pada organisasi secara keseluruhan.

Penetapan harga jasa yang dihasilkan kantor pusat
Pada bagian ini dijelaskan mengenai penetapan harga dari jasa yang diberikan pusat pada unit bisnis seperti: Biaya pemeliharaan, Biaya pengolahan data dll. Dalam hal ini terdapat dua jenis jasa, yaitu:
1. Jasa yang harus digunakan oleh unit bisnis, tetapi unit bisnis dapat mengendalikan sesuai dengan kebutuhannya
2. Jasa yang harus digunakan dan unit bisnis tidak dapat mengendalikan
Penetapan harga jasa tersebut dapat ditetapkan berdasarkan:
Pengendalian jumlah jasa
Unit Bisnis mungkin membutuhkan jasa dari pusat, misalnya tehnologi informasi. Pada situasi ini unit bisnis tidak mampu mengendalikan efisiensi kinerja aktivitas ini, tetapi dapat mengendalikan jumlah jasa yang digunakan. Terdapat tiga pendapat mengenai jasa ini, yaitu :
1. Unit bisnis harus membayar biaya variabel standar untuk jasa ini. Dalam hal ini ditujukan supaya unit bisnis memanfaatkan jasa ini.
2. Unit bisnis dibebani dengan biaya total standar. Hal ini ditujukan untuk mempaertahankan kualitas atau efisiensi jasa yang diberikan.
3. Unit bisnis dibebani sesuai dengan harga pasar, atau biaya standar plus laba. Hal ini ditujukan untuk menunjukkan bahwa semua investasi yang dilakukan harus memberikan imbal hasil yang sesuai.

Penggunaan jasa secara optional
Pada beberapa kasus, manajemen mungkin memutuskan bahwa unit binis dapat menentukan untuk menggunakan jasa dari pusat atau tidak. Unit bisnis mungkin akan memperoleh jasa tersebut dari luar, membuat sendiri atau tidak menggunakan jasa tersebut sama sekali. Pusat jasa ini bersifat independen, dan harus mampu melakukan kegiatan tanpa bantuan dari manapun. Apabila jasa dari internal tidak mampu bersaing dengan pemberi jasa dari luar, maka sebaiknya jasa tersebut dilakukan dari luar.
Pada kondisi ini, manajer unit bisnis mampu mengendalikan jumlah dan efisiensi jasa yang diberikan oleh pusat. Harga transfer seharusnya ditetapkan berdasarkan pertimbangan yang sama seperti penetapan harga transfer lainnya.

Administrasi harga transfer:
Berikut ini akan dijelaskan mengenai bagaimana penetapan harga transfer, dimulai dari negosiasi, bagaimana mengatasi konflik yang terjadi dan pengklasifikasian produk sesuai dengan metode yang sesuai.

Negosiasi:
Pada umumnya, beberapa unit bisnis akan melakukan negosiasi penetapan harga transfer diantara mereka, jadi harga transfer tidak ditetapkan oleh pusat. Apabila pusat ikut mengendalikan harga, maka kemampuan manajer dalam mempengaruhi laba akan berkurang.
Unit bisnis harus mengetahui aturan main dalam melakukan negosiasi harga transfer. Pada beberapa perusahaan pimpinan puncak menginformasikan pada unit bisnis mengenai kebebasan mereka untuk melakukan kerjasama diantara mereka atau dengan pihak luar apabila memang diperlukan. Apabila kerjasama dilakukan dengan pihak luar, tentunya tidak diperlukan prosedur negosiasi.
Arbritase dan penyelesaian konflik:
Apabila tidak diperoleh kesepakatan harga transfer dari negosiasi, maka diperlukan proses abritase untuk menyelesaikan permasalahan ini. Kegiatan abritase ini dapat dilakukan oleh seorang pimpinan, misalnya manajer Keuangan atau wakil direktur yang melakukan pembicaraan dengan manajer unit bisnis yang terlibat dan akhirnya mengumumkan harga transfer yang ditetapkan. Atau dapat juga dilakukan dengan membentuk komite yang bertugas untuk:1) Menyelesaikan permasalahan harga transfer, 2) melakukan review perubahan sumberdaya, 3) Apabila diperlukan mengubah aturan penetapan harga transfer.
Arbitrase dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada sistem formal, kedua unit bisnis menyampaikan permasalahannya secara tertulis pada abritator. Kemudian setelah di review oleh arbitrator, amaka harga transfer ditetapkan.
Perlu diperhatikan, seharusnya kegiatan abrotase yang dilakukan pada perusahaan seharusnya seminimal mungkin. Karena kalau terlalu sering dilakukan abritase, maka hal ini menunjukkan aturan yang ditetapkan kurang spesifik atau sulit diimplementasikan.
Klasifikasi Produk:
Ketentuan sumberdaya dan harga transfer tergantung pada jumlah transfer yang dilakukan dalam organisasi dan ketersediaan pasar dan harga pasar. Semakin besar jumlah transfer antar unit bisnis dan ketersediaan harga pasar, maka aturannya harus lebih formal dan spesifik. Apabila harga pasar tersedia, sumberdaya dapat dikendalikan dengan melakukan review untuk keputusan mebuat atau membeli sumber daya yang diperlukan.
Beberapa perusahaan mengelompokkan produk dalam dua kelas:
1. Kelas I merupakan semua produk yang sumbernya harus dikendalikan pimpinan puncak. Produk yang masuk pada kelompok ini adalah, yang volume produknya cukup besar, tidak dapat diperoleh dari luar, produk yang mem punyai unsur kerahasiaan atau kualitas tertentu.
2. Kelas II merupakan produk yang dapat diperoleh dari luar tanpa mengganggu kegiatan operasional, volumenya relative kecil. Produk dalam kelas ini harga transfernya sesuai dengan harga pasar.
Sumberdaya produk yang dikelompokkan pada kelas I, hanya dapat diubah apabila ada persetujuan dari manajemen puncak. Sedangkan kelas II dapat ditentukan oleh unit bisnis yang terkait dan penjual maupun pembeli mempunyai kebebasan untuk melakukan kerjasama dengan pihak dalam atau luar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13/05/2010 in SPM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: